Motivasi Dalam Pendidikan Olahraga Menjadikan Siswa Siswi Yang Berkarakter
Oleh Yulizar, M.Pd.
Pendidikan Olahraga atau Pendidikan jasamani merupakan bagian kebutuhan biologis bagi semua manusia, seorang guru harus pandai untuk memotivasi siswa agar senang melakukan kegiatan belajar pendidikan jasmani, menumbuhkan minat dan bakat siswa merupakan tugas seorang guru yang paham dalam psikologi pendidikan olahraga. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri.
Dengan Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan faktor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya.
Dorongan seseorang untuk melakukan suatu tindakan biasanya dalam bentuk motif dan motivasi, motif/motivasi ini dapat mengembangkan kemampuannya secara maksimal pada diri atlet, namun apabila didasari dengan faktor lain yang datang mempengaruhinya motivasi tersebut juga akan membuat kearah negatif atau menyimpang.
Motivasi sering kita dengar dan lajim diungkapkan oleh seseorang dalam menentukan atau peraihan tujuan yang akan dicapai, dan tentunya hal tersebut berpengaruh dalam pencapaian tujuannya atau ke inginan seseorang, kemungkinan ketika motivasi itu baik diterapkan dan digambarkan dalam aktivitas, prilaku atau tindakan sesuai dengan kebutuhannya maka akan memperoleh tujuannya dengan baik dan sempurna.
Motivasi berasal dari bahasa latin yaitu kata movere yang berarti bergerak. Dalam konteks sekarang, motivasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses psikologi yang menghasilkan suatu intensitas, arah, dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai satu tujuan. Menurut Komarudin (2013:23) tindakan atau prilaku manusia selalu ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor yang datang dari luar dan faktor yang datang dari dalam dirinya sendiri , prilaku yang didorong oleh kekuatan yang ada didalam dirinya sendiri disebut dengan motif. Motif diartikan sebagai pendorong atau penggerak dalam diri manusia yang diarahkan pada tujuan tertentu (Gunarsa, 1989:90). Sedangkan motivasi komarudin menyimpulkan pendapatnya dari para akhli yang mengungkapkan motivasi, motivasi berarti menggerakkan atau mendorong untuk bergerak. Ketika pelatih mengeluh karena atletnya tidak termotivasi untuk berlatih, atlet tersebut harus dibantu pelatih untuk menggerakan dan meningkatkan motivasinya.
Dalam bukunya Psikologi Olahraga , Komarudin (2013:24) motivasi dapat didefinisikan sebagai dorongan yang berasal dari dalam atau dari luar diri individu untuk melakukan suatu aktivitas yang bias menjamin kelangsungan aktivitas tersebut, serta dapat menentukan arah haluan dan besaran upaya yang dikerahkan untuk melakukan aktivitas sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Motivasi memiliki cirri pokok yaitu adanya direction, intensitas, dan presisten dalam berprilaku. Deriction menunjukan kepada bentuk aktivitas yang dipilih untuk dilakukan, Intensitas menggambarkan seberapa besar atau seberapa banyak usaha untuk melakukan aktivitas, sedangkan persisten menggambarkan lamanya waktu dalam melakukan aktivitas.
Sebelum mengarah pada motivasi dalam olahraga kita harus mengetahui motivasi berprestasi karena dalam sebuah olahraga tidak terpisahkan dengan macam-macam kecabangan yang berhubungan dengan seseorang atau atlet yang terlibat didalamnya, dan salah satu yang harus ada dalam diri seorang atlet untuk mengembangkan prestasinya tersebut dengan sempurna, meningkatkan kebugaran pada tingkat tertinggi dan berlatih secara maksimal. Motivasi berprestasi pada hakikatnya merupakan pada keinginan, hasrat, kemauan dan pendorong untuk dapat unggul yaitu mengungguli prestasi yang pernah dicapainya sendiri atau prestasi yang dicapai oleh orang lain. Motivasi berprestasi merupakan dorongan untuk berpacu dengan keunggulan , baik keunggulan dirinya sendiri, keunggulan oaring lain, atau kesempurnaan dalam melaksanakan tugas tertentu (Komarudin, 2013:25)
Sumber Motivasi dalam Olahraga
Motivasi olahraga dapat dibagi atas motivasi primer dan sekunder, dapat pula atas motivasi biologis dan sosial. Namun banyak ahli membagikannya atas dua jenis, intrinsik dan ekstrinsik. Faktor yang mempengaruhi sesorang dalam melakukan tindakan seperti yang telah dijelaskan diatas ada dua faktor yang datang dalam diri seseorang (intrinsik) dan faktor yang datang dari luar (ekstrinsik). Tentunya apabila digambarkan dalam olahraga khususnya dalam motivasi atlet pada cabang keolahragaannya akan mempunyai manfaat dan fungsi yang baik, dan merupakan hal yang menarik yang harus diketahui oleh atlet dan pelatih dalam membina prestasi yang lebih baik lagi, seperti yang akan dijelaskan dibawah ini:
Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik sangat menentukan atlet untuk memutuskan dirinya untuk terus berprestasi dalam olahraga yang digelutinya. Bagi atlet yang memiliki motivasi intirinsik aktivitasnya dilakukan secara sukarela, penuh kesenangan dan kepuasan, sehingga atlit merasa kompeten dengan apa yang dilakukannnya.
Pendapat lain Harsono (1988:251) menjelaskan bahwa motivasi intrinsik berfungsi karena ada dorongan-dorongan yang berasal dari dalam diri individu sendiri. Siswa semakin meningkatkan kepintarannya, kemampuannya dan keterampilnya karna hal tersebut akan memberikan kepuasan kepada dirinya. Siswa tidak peduli apakah karena prestasinya nanti akan mendapatkan pujian, medali, atau hadiah-hadiah lainnya atau tidak, yang penting baginya hanyalah kepuasan diri. Siswa dengan motivasi intrinsic biasanya tekun bekerja keras, teratur dan disiplin dalam menjalani latihan serta tidak menggantungkan dirinya pada orang lain, mempunyai kepribadian yang matang, percaya diri dan disiplin diri yang matang. Aktivitas yang dilandasi dengan motivasi intrinsik akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan motivasi lainnya sesuai dengan penelitian yang dilakukan Anshel (1990:107). Komarudin (2013:26) menyimpulkan motivasi intrinsik harus ditumbuhkan pada diri siswa, sebab prilaku yang didasari dengan motivasi intrinsik cenderung lebih giat, lebih gigih, dan relatif menetap dibandingkan dengan prilaku yang didorong dengan motivasi yang bersifat ekstrinsik.
Motivasi intrinsik memiliki faktor-faktor dari dalam diri manusia itu sendiri. Seperti yang di ungkapkan oleh Abraham H. Maslow pada teori kebutuhan. Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :
- Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex;
- Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual;
- Kebutuhan akan kasih sayang (love needs);
- Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan
- Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat psikologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.
Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang timbul karena adanya faktor dari luar yang mempengaruhi dirinya. Atlet berprestasii dalam aktivitas olahraga tidak didasari dengan kesenangan dan kepuasan, tetapi keterlibatan atlet dalam aktivitas itu didasari oleh keinginan untuk perolehan sesuatu.
Dorongan ini barasal dari pelatih, guru, orangtua, bangsa atau berupa hadiah, sertifikat, penghargaan atau uang. Motivasi ekstrinsik itu dapat dipelajari dan tergantung pada besarnya nilai penguat itu dari waktu ke waktu. Ini dapat karena mempertaruhkan nama bangsa dan negara, karena hadiah besar, karena publikasi lewat media massa. Dorongan yang demikian ini biasanya tidak bertahan lama. Perubahan nilai hadiah, tiadanya hadiah akan menurunkan semangat dan gairah berlatih. Kurangnya kompetisi menyebabkan latihan kurang tekun, sehingga prestasinya merosot.
Motivasi ekstrinsik dalam olahraga meliputi juga motivasi kompetitif, karena motif untuk bersaing memegang peranan yang lebih besar daripada kepuasan karena telah berprestasi baik. Kemenangan merupakan satu-satunya tujuan, sehingga dapat timbul kecenderungan untuk berbuat kurang sportif atau kurang jujur seperti licik dan curang. Atlet-atlet yang bermotifasi ektrinsik, sering tidak menghargai orang lain, lawannya, atau peraturan pertandingan. Agar dapat menang, maka ia cenderung berbuat hal-hal yang merugikan, seperti memakai obat perangsang, mudah dibeli atau disuap.
Beberapa ahli mengemukakan bahwa dalam aktifitas olahraga, motivasi intrinsik maupun ekstrisik tidak akan berdiri sendiri, melainkan bersama-sama menuntun tingkah laku individu. Mereka berdasarkan pandangannya bahwa tingkahlaku motivasi intrinsik itu didorong oleh kebutuhan kompetisi dan keputusan sendiri dalam kaitannya dengan lingkungan. Manusia hidup dengan lingkungannya dan bertingkah laku dengan lingkunganya. Itulah sebabnya pengaruh lingkungan tidak akan terlepas dari kehidupan manusia. Motivasi ekstrisik (pengaruh lingkungan) selalu menuntun tingkah laku manusia. Dengan demikian tingkah laku individu dalam olahraga dipengaruhi oleh motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik.
Peran motivasi intrinsik dan ekstrinsik dapat kita lihat dalam pertandingan. Dalam pertandingan atlet atau tim akan bermain dilapangan yang baru, menghadapi penonton yang banyak. Sebelum dan selama pertandingan mereka selalu mendapat petunjuk-petunjuk dari pelatih baik teknik, strategi maupun dorongan semangat, agar mereka dapat bermain sebaik mungkin dan memenangkan pertandingan. Situasi penonton, lapangan yang baru, petunjuk pelatih, menyebabkan tingkah laku mereka dalam kendali lingkungan. Artinya, motivasi ekstrinsik berfungsi. Dengan demikin dalam diri atlet atau tim berfungsi motivasi intrisik karena adanya kebutuhan-kebutuhannya sendiri, dan motivasi ekstrisik karena dipengaruhi keadaan dari luar.
Cara Meningkatkan Motivasi
Motivasi memegang peranan yang penting dalam olahraga prestasi. Seorang atlet harus mampu menjaga motivasinya agar tetap dalam level yang tinggi baik dalam proses latihan maupun pada saat menjalani pertandingan. Motivasi memang bukanlah kondisi yang tidak bisa berubah. Setiap saat motivasi atlet bisa mengalami perubahan, sehingga diperlukan sebuah upaya agar motivasi tetap terjaga pada level yang optimal. Ada beberapa cara untuk meningkatkan motivasi atlet, diantara adalah:
1. Menetapkan Sasaran (Goal Setting)
Konsep dasar dari goal setting adalah menciptakan tantangan bagi atlet untuk dilewati. Secara sederhana, goal setting merangsang atlet untuk mencapai sesuatu baik dalam proses latihan maupun dalam sebuah kompetisi. Ada beberapa batasan tentang metode goal setting ini agar berjalan secara efektif. Yang perlu diperhatikan pertama adalah sasaran harus spesifik agar atlet mempunyai ukuran atas pencapaiannya. Batasan yang kedua adalah tingkat kesulitan sasaran. Tingkat kesulitan ini akan mempengaruhi persepsi atlet tentang kemampuannya. Sasaran yang terlalu sulit akan membuat atlet ragu untuk bisa mencapainya. Seandainya gagal, hal itu justru akan melemahkan keyakinan diri atlet. Sebaliknya, sasaran juga tidak bisa dibuat terlalu mudah karena tidak akan memberi rangsangan untuk berbuat lebih. Semakin menantang sasaran yang harus dicapai, upaya dari seorang atlet untuk meraihnya juga akan semakin besar (Wann, 1997).
Sasaran juga harus dibuat bertingkat dengan membedakan sasaran jangka pendek dan jangka panjang. Sasaran jangka pendek digunakan sebagai batu loncatan untuk meraih sasaran yang lebih tinggi. Misalnya, Olimpiade sebagai sasaran jangka panjangnya. Untuk mencapai hal tersebut, maka seorang atlet harus menjuarai level Sea Games atau Asian Games terlebih dahulu. Mengikuti kompetisi yang rutin dan berjenjang adalah salah satu bentuk menentukan sasaran yang efektif. Dengan banyak mengikuti kompetisi, seorang pelatih akan lebih mudah menentukan prioritas dari kompetisi tersebut. Ada kalanya kompetisi dijadikan sebagai ajang pemanasan untuk mematangkan kondisi fisik, sehingga targetnya tidak perlu terlalu tinggi.
Berikutnya, atlet harus selalu diberi feedback atas setiap pencapaian yang dia selesaikan. Dengan feedback yang spesifik ini, atlet akan mengetahui kekurangan dan kekuatan dirinya, sehingga atlet akan mempunyai informasi untuk meningkatkan dirinya. Dengan menetapkan sasaran yang tepat, maka motivasi atlet akan selalu terpacu untuk tampil dan menyelesaikan setiap tantangan yang dihadapi.
2. Persuasi Verbal
Persuasi Verbal adalah metode yang paling mudah untuk dilakukan. Pelatih, ofisial, atau keluarga adalah orang-orang yang sering memberikan persuasi secara verbal ini. Persuasi verbal adalah membakar semangat atlet dengan ucapan-ucapan yang memotivasi. Selain itu, Persuasi verbal bisa juga dilakukan oleh atlet sendiri atau sering disebut dengan istilah Self talk. Self talk adalah metode persuasi verbal untuk atlet sendiri. Prinsip dasar dari self talk ini sebenarnya adalah membantu atlet untuk mendapatkan gambaran yang positif baik tentang kemampuannya atau mengenai suasana pertandingan. Self talk ini diyakini mampu menumbuhkan keyakinan diri atlet baik sebelum bertanding atau pada saat menjalani pertandingan. Dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang membakar semangat maka gambaran pesimisme atlet akan hilang dari persepsinya.
3. Imagery Training
Metode berikutnya yang cukup membantu memacu motivasi para atlet adalah dengan melakukan imagery training atau latihan pembayangan. Dalam latihan pembayangan ini atlet diajak untuk memvisualisasikan situasi pertandingan yang akan dijalani. Secara detil, atlet harus menggambarkan keseluruhan pertandingan, mulai dari situasi lapangan, penontong, lawan dan segala macam yang terlibat dalam pertandingan itu. Setelah mendapat gambaran yang riil, maka atlet diajak untuk mencari solusi atas persoalan yang mungkin muncul dalam pertandingan.
Sebagian pemain mengembangkan persepsi bahwa di lapangan akan menghadapi lawan yang berat, tangguh dan sulit dikalahkan. Persepsi semacam ini terkadang muncul akibat ketegangan sebelum pertandingan. Atlet tidak secara objektif menilai kemampuan diri sendiri. Konsentrasi atlet terfokus pada kekuatan lawan dan situasi pertandingan yang berat. Situasi inilah yang melemahkan motivasi atlet sebelum bertanding. Metode Imagery training mengajak para pemain untuk mencari atas kemungkinan persoalan yang muncul di lapangan. Membayangkan kekuatan diri, pukulan andalan atau kelemahan musuh, menciptakan kondisi objektif pada persepsi seorang atlet.
4. Motivasi Supertisi ( Takhayul )
Adalah suatu bentuk kepercanyaan kepada susuatu yang menrupakan suatu simbul dan yang di anggap mempunyai daya kekuatan atu daya dorongan mental, motivasi ini dapat mengubah tngkah laku menjadi lebih semangat, ambisius, dan lebih besar kemauanya untk sukses.
5. Motivasi Dengan Gambar
Terutama gambar atau poster yang ada berhubungnya dengan cabang olahraga yang di geluti misalnya, gambar Ben Johnson yang sedang lari,gambar adegan yang menarik dalam pertandingan sepak bola, ganbar Mike Tyson dan alin-lain.
6. Meningkatkan Kemampuan Siswa
Kemampuan atlet meliputi skill teknis dan fisik. Skill dan fisik yang bagus, akan mempengaruhi keinginan untuk mencapai prestasi yang maksimal. Skill yang prima dapat dilihat dan dievaluasi melalui pertandingan yang diikuti oleh siswa. Untuk itu diperlukan metode Pembelajaran yang modern dan efektif untuk meningkatkan keterampilan seorang siswa. Guru atau Pelatih juga harus paham dengan pencapaian teknik dan fisik yang dimiliki oleh pemainnya.
7. Motivasi insentif (Reward)
Reward ini adalah metode yang paling banyak digunakan untuk memacu motivasi atlet. Bonus, hadiah atau jabatan tertentu digunakan untuk memotivasi atlet. Reward ini ditujukan untuk menggugah motivasi ekstrinsik dari atlet. Dengan iming-iming bonus yang besar, diharapkan atlet akan terpacu tampil terbaik dan mengalahkan lawannya.
Salah satu kelemahan dari metode ini adalah kemungkinan menciptakan ketergantungan dari para atlet. Banyak atlet hanya termotivasi hanya untuk mendapatkan bonus tersebut daripada alasan lain, Sehingga tidak jarang atlet melakukan upaya-upaya kotor untuk menjadi pemenang. Penggunaan doping adalah salah satu cara yang paling sering ditempuh oleh seorang atlet demi tampil maksimal dan mendapatkan hadiah atas kemenangannya. Untuk itulah, reward ini harus diberikan sebagai pelengkap dari metode lain dan harus diberikan secara bijaksana.
8. Motivasi Karena Takut
Ketakutan atau takut terhadap sesuatu dapat merupakan motivasi yang kuat bagi seseorang.:
• Perasaan yang takut atau malu jika atlit tidak tau peraturan pertandingan tersebut (sportif).
• Kekuatan atlit dalam porsi latihan yang diberikan.
• Perasaan takut atau malu ketika tidak ikut serta dalam team (diskors).
• Perasaan takut atau malu jika tidak bias mamanuhi harapan-harapan atau sasaran yang di tetapkan oleh pelatih. Sehingga atlit akan beruasaha sekuat tenaga dalam batas sportitifitas.
• Motivasi Olahraga merupakan suatu motif sesorang atau siswa, atlet yang menimbulkan kegiatan olahraga dalam menjamin kelangsungan latihannya dan memberikan arahan pada kegiatan latihan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Melalui olahraga seseorang mendaptakan kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuan, kepuasan, mendapatkan pengakuan dan popularitas, menemukan teman – teman baru serta pengalaman bepergian dan bertanding yang mendatangkan kegembiraan dan kepuasan. Olahraga merupakan aktivitas yang unik, dimana semua memerlukan hubungan yang harmonis dan ideal antara proses berfikir, emosi dan gerakan.
• Peran motivasi intrinsik dan ekstrinsik dapat kita lihat dalam pertandingan. Dalam pertandingan atlet atau tim akan bermain dilapangan yang baru, menghadapi penonton yang banyak. Sebelum dan selama pertandingan mereka selalu mendapat petunjuk-petunjuk dari pelatih baik teknik, strategi maupun dorongan semangat, agar mereka dapat bermain sebaik mungkin dan memenangkan pertandingan. Situasi penonton, lapangan yang baru, petunjuk pelatih, menyebabkan tingkah laku mereka dalam kendali lingkungan. Artinya, motivasi ekstrinsik berfungsi. Dengan demikin dalam diri atlet atau tim berfungsi motivasi intrisik karena adanya kebutuhan-kebutuhannya sendiri, dan motivasi ekstrisik karena dipengaruhi keadaan dari luar.
• Siswa atau Atlit dapat dikatakan benar-benar memiliki motivasi bila terlihat dari perilakunya berlatih dan bertanding, namun naik turunnya motivasi, bagaimana mempertahankan motivasi, serta menumbuhkan motivasi berprestasi yang stabil pada Siswa atau atlit itulah yang tidak mudah dilakukan. Terlebih lagi, motivasi tidak dapat dimunculkan secara instan, namun merupakan suatu proses yang memembutuhkan dukungan baik dari dalam diri siswa atau atlit sendiri maupun dari lingkungannya